Melihat Kokohnya Istana Malige: Berdiri 4 Lantai tanpa Paku Satu Pun

Melihat Kokohnya Istana Malige: Berdiri 4 Lantai tanpa Paku Satu Pun

Melihat Kokohnya Istana Malige: Berdiri 4 Lantai tanpa Paku Satu Pun

Melihat Kokohnya Istana Malige: Berdiri 4 Lantai tanpa Paku Satu Pun

Agen Judi Bola – Tim kendarinesia disambut oleh rumah panggung yang terbuat dari kayu berdiri kokoh di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektar saat berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau Bau, Sulawesi Tenggara.

Cerdas Poker – Bangunan yang seluruhnya terbuat dari kayu dan menjulang kokoh setinggi 4 lantai tersebut merupakan rumah orang nomor satu di Kesultanan Buton yakni Sultan Buton 38, La Ode Muhammad Hamidi.

Prediksi Togel Paling Jitu – Siapa sangka, rumah yang kini didiami oleh cucu dan buyut dari Sultan Buton itu dibangun tak menggunakan satu biji paku besi. Kerangka bangunan itu hanya mengaitkan satu lubang ke lubang lainnya yang sudah dibentuk sedemikian rupa.

Saat tiba di halaman rumah, kami disambut langsung oleh Ode Farid yang merupakan cicit dari Sultan Buton Muhammad Hamidi. Ia kini tinggal bersama para keturunan Sultan ke-38 itu.

Lantai dua, tiga dan empat rumah , Foto: Attamimi/kendarinesiaid

La Ode Farid menjelaskan rumah tersebut merupakan kediaman pribadi Sultan Buton terakhir yang diberi nama Istana Malige.

Ia juga menyebut di sekitar istana juga ada bangunan yang untuk para Sultan. Bangunan tersebut diberi nama Istana Kamali.

“Istana Malige merupakan istana terakhir Sultan Buton. Istana Malige ini merupakan tempat tinggal Sultan dengan keluarganya, sementara kalau Istana Kamali untuk tempat tinggal Sultan dengan selir-selirnya,” ujar Ode Farid.

Seperti diketahui, nama Malige diambil dari kata mahligai, sehingga begitu berharganya rumah ini bagi Muhammad Hamidi. Rumah setinggi empat lantai ini dibangun tanpa menggunakan gambar ataupun konsep tertulis.

“Jadi dulu rumah ini dibangun hanya terkonsep di otak kakek saya, sudah banyak yang datang menanyakan gambar bangunan tapi memang itu tidak ada,” ungkap La Ode Farid.

La Ode Farid Sultan Buton ke-38, Foto: Attamimi/kendarinesiaid

Usai berbincang-bincang di halaman rumah, kami dipersilakan masuk untuk melihat rumah. Kesempatan yang diberikan ini terbilang langka, sebab tak banyak orang yang dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

Saat kami memasuki ruang tamu, tak banyak yang berubah dari unsur bangunan. Menurutnya, tata bangunan tersebut masih seperti dulu saat pertama kali dibuat.

Terdapat tiga bagian dalam ruangan lantai satu, serta kamar tidur. Salah satunya ruangan yang terletak paling belakang, yang merupakan kamar pribadi milik Sultan Buton ke-38 itu.

Pada bagian lantai dua terdapat 14 ruangan kamar sesuai jumlah anak dari Muhammad Hamidi. Terbagi pada dua sisi kiri dan kanan berjejer rapi masing-masing berjumlah tujuh kamar. Uniknya lagi, kamar ini posisi menggantung tidak menyatu dengan lantai dua bangunan.

“Kamar ini dalam bahasa Buton disebut Pabate, modelnya ini menggantung kalau kita melihat dari luar di bawahnya menjulur ke bawah yang disebut tiang dengan ukiran persegi empat dan hanya bisa digunakan oleh pejabat pada masa itu,” ujar Farid.

Sisi ruangan lantai tiga rumah Buton, Foto: Attamimi/kendarinesiaid

Sementara untuk lantai tiga dan empat hanya terdiri ruangan kosong untuk menyimpan perabot milik keluarga Kesultanan. Sedangkan pada bagian rumah terdapat ukiran kayu berbentuk dan sebagai simbol masyarakat Buton.

“Simbol (nanas) tersebut menggambarkan orang Buton bisa hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru di perantauan. Sementara naga merupakan simbol kekuatan,” tambahnya.

Dulunya rumah masyarakat Buton tidak diperbolehkan melebihi tinggi dari atap rumah milik Kesultanan, berapa apa pun warga tersebut.

Namun, kini budaya itu sudah hilang. Hingga saat ini, sebagian warga Buton memiliki rumah yang bentuknya mirip Istana Malige dan Kamali, lengkap dengan lambang nanas dan naga di atap rumah.

Beberapa foto anak Sultan Hamidi kini masih di dalam rumah, Foto: Attamimi/kendarinesiaid
Bagian kaki rumah yang terpasang tanpa menggunakan paku satu pun, Foto: Attamimi/kendarinesiaid