Man United vs Liverpool: Menguak Celah ‘Si Merah

Man United vs Liverpool: Menguak Celah ‘Si Merah

Man United vs Liverpool: Menguak Celah ‘Si Merah

Man United vs Liverpool: Menguak Celah ‘Si Merah

Minggu (24/2/2019), Old Trafford bakal makin memerah. Sedalam rivalitas yang tertuang sejak kanal Manchester dibangun 1885 silam, seluas pengaruh The Stone Roses dan The Beatles di tanah Inggris. Ya, Manchester United, sang tuan rumah akan menjajal Liverpool pada pekan ke-27 Premier League.

Terhitung sejak awal tahun, mereka adalah klub dengan performa paling impresif–bersama Manchester City. Sebenarnya penampilan Liverpool tak bisa dibilang bagus-bagus amat sejak tahun baru. Cuma tiga kemenangan yang berhasil mereka petik dari delapan pertandingan di lintas ajang.

Akan tetapi, rentetan kegagalan memetik poin penuh itu nyatanya belum mengubah posisi mereka di papan atas tabel klasemen Premier League. Torehan poin The Reds setara dengan City, 65 angka. Mereka bahkan masih menyimpan satu pertandingan lebih banyak ketimbang The Citizens.

Sementara United lebih meyakinkan dari segi performa. Sejak diambil alih Ole Gunnar Solskjaer, mereka hanya dua kali gagal mendulang kemenangan dalam 13 pertandingan di lintas ajang–imbang melawan Burnley dan keok 0-2 dari Paris Saint-Germain (PSG) di pentas Liga Champions.

Para pemain Paris Saint-Germain meryakan gol ke gawang Manchester United. Foto: Reuters/Jason Cairnduff

United dalam posisi yang tak diuntungkan sekarang. Ada kans besar mereka tak bisa manggung dengan skuat terbaiknya lantaran cedera yang menerpa Jesse Lingard dan Anthony Martial.

Ini bukan perkara sepele. Kekalahan dari PSG tengah pekan lalu tak terlepas dari kegagalan keduanya menyelesaikan pertandingan. Lingard ditarik sebelum babak pertama usai, sedangkan Martial digantikan dengan Juan Mata pasca-rehat.

United melempem setelahnya. Alih-alih mencetak gol, mengukir tembakan tepat sasaran pun mereka tak mampu. Magi Marcus Rashford dan Paul Pogba luntur. Pemain yang disebut belakangan malah diusir wasit setelah mendapatkan kartu kuning kedua.

Ketiadaan Lingard-lah yang jadi pangkal masalahnya. Mobilitasnya dibutuhkan untuk menjembatani Rashford dan membuka ruang bagi Pogba. Itulah mengapa Solskjaer memberikan peran free-role kepada gelandang yang pernah dipinjamkan ke Brighton & Hove Albion itu.

Kendati demikian, itu tidak menjadi masalah nanti atau tak akan menjadi problem besar. Solskjaer sudah menemukan pakem anyar untuk mengakali absennya Lingard dan Martial, yakni dengan format 4-3-1-2.

Trio gelandang dihuni Nemanja Matic, Ander Herrera, dan Pogba. Sementara Mata yang bertugas menjembatani lini tengah ke depan. Untuk pos penyerang, Romelu Lukaku dipercaya sebagai tandem Rashford. Sebuah keputusan yang masuk akal mengingat performa Lukaku relatif konsisten ketimbang Alexis Sanchez yang angin-anginan. Secara kasarnya, ia gagal untuk bersinergi dengan sistem Solskjaer.

Selebrasi gol oleh Lingard dan Lukaku. Foto: REUTERS/Andrew Yates

Kemenangan 2-0 atas Chelsea jadi buktinya manjurnya formula baru Solskjaer. Ia berusaha menjaga kerapatan per lini demi meminimalisir ancaman atas derasnya arus bola Chelsea, khususnya di lini tengah.

Pogba dan Herrera yang biasanya dinamis, diutus untuk menjaga kerapatan dengan Matic. Sementara Mata yang menggantikan peran Lingard, yakni mendistribusikan bola ke garis terdepan dan ke sisi kanan.

Secara kecepatan, Mata memang tak lebih baik dari Lingard. Namun, mantan pemain Valencia itu fasih untuk bermain di area sentral maupun sebagai winger selain punya visi yang oke.

Perlu diingat, kekalahan United dari Liverpool di paruh pertama lalu adalah buah dari kegagalan Jose Mourinho dalam mengakomodir Lukaku yang mengisi sektor penyerang. Hanya 20 kali penggawa Tim Nasional Belgia itu melakukan sentuhan. Jadi, tak heran juga bila kuantitas tembakannya saat itu nihil.

Nah, maka dari itu Mata akan memainkan peran vital nanti. Sebagai jembatan sekaligus untuk membuka ruang bagi Pogba untuk muncul dari lini kedua. Sementara Lukaku akan berpadu dengan Rashford di kedua sisi, pola yang identik seperti saat berhadapan dengan Chelsea.

Juan Mata mencari ruang tembak di tengah penjagaan ketat pemain belakang Fulham. Foto: Reuters/PHIL NOBLE

Permasalahan United tak berhenti sampai di situ. Sebab, mereka juga kudu mengantisipasi produktivitas Liverpool yang mengemas rata-rata 2,3 gol di tiap laga Premier League musim ini–cuma kalah dari City yang mengukir 2,7.

Kabar baiknya buat United, Liverpool sedang mengalami penurunan produktivitas baru-baru ini. Dalam empat laga ke belakang, cuma sekali mereka berhasil mencetak lebih dari satu gol, yakni saat melibas Bournemouth 3-0. Teraktual, pasukan Juergen Klopp itu bahkan gagal mencetak gol saat menjamu Bayern Muenchen di leg pertama babak 16 besar Liga Champions tiga hari silam.

Pressing tinggi yang dicanangkan Mats Hummels dan kawan-kawan sukses membuat Liverpool kelimpungan.

Tak hanya saat berada di wilayah pertahanan saja Bayern melancarkan tekanan, tetapi hingga area sepertiga pertahanan Liverpool. Lihat saja betapa tingginya aksi bertahan para gelandang dan penyerang Die Roten.

Serge Gnabry yang ngepos di sayap kanan tercatat telah melakukan 4 tekel sukses–torehan tertinggi bersama Jordan Henderson. Robert Lewandowski tak ketinggalan unjuk gigi lewat 3 catatan intersepnya. Jumlah tersebut hanya kalah dari Javi Martinez yang mengukir 6 intersep.

Sistem pressing itu kemudian berhasil meminimalisir distribusi bola ke lini depan. Nyatanya, hanya dua umpan kunci yang mampu dilepaskan para penghuni lini tengah Liverpool.

Terlebih, Niko Kovac saat itu juga menerapkan garis pertahanan rendah. Makin sulit pula Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino untuk mendobrak pertahanan Bayern.

Pemain Liverpool dan Bayern berebut bola. Foto: Reuters/Carl Recine

United punya kans untuk menerapkan sistem yang sama dengan Bayern. Di tangan Solskjaer, fleksibilitas ‘Setan Merah’ lebih terlatih ketimbang era Mourinho. Kuncinya, tinggal bagaimana mereka bisa konsisten dan seimbang dalam mencanangkan tekanan.

Gol cepat bakal membuat situasi menjadi lebih baik bagi United. Ini bukan mustahil, toh pakem anyar Solskjaer terbukti moncer dalam mendongkrak daya gedor tim kendati tanpa Lingard dan Martial sekalipun.