Jonatan Christie: Dari Kameo Menjadi Andalan Tunggal Putra Indonesia

Jonatan Christie: Dari Kameo Menjadi Andalan Tunggal Putra Indonesia

Jonatan Christie: Dari Kameo Menjadi Andalan Tunggal Putra Indonesia

Jonatan Christie: Dari Kameo Menjadi Andalan Tunggal Putra Indonesia

TOGEL ONLINE – Bulu tangkis datang ke dalam hidup Jonatan Christie melalui orang tuanya. Sang ayah, Andreas Adi Siswa, memilih bulu tangkis sebagai ekstrakulikuler bagi anaknya ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Alasannya cukup sederhana, tak ada tendensi untuk mengejar prestasi kala itu. Bulu tangkis dipilih sebagai kegiatan Jonatan sepulang sekolah karena bertempat di dalam ruangan (hall), tak seperti sepak bola atau bola basket yang dimainkan di lapangan terbuka.

Dari alasan awal yang sederhana itu, bulu tangkis rupanya menjadi bagian hidup Jojo-sapaan akrab Jonatan–yang tak terlepaskan di waktu-waktu ke depan. Namanya tumbuh, meroket, dan menjadi salah satu harapan Indonesia untuk mengembalikan kejayaan tunggal putra di kancah bulu tangkis dunia.

***

Kisah bermula pada 2007. Bulu tangkis yang awalnya hanya kegiatan ekstrakulikuler, mulai digeluti Jojo lebih serius. Saat menjejak usia 9 tahun, Jojo akhirnya masuk ke klub PB Tangkas di Jakarta.

PB Tangkas sendiri merupakan klub dengan reputasi mentereng di Tanah Air. Pebulu tangkis top dunia lahir dari tempaan klub ini seperti Icuk Sugiarto, Ricky Soebagja, Liliyana Natsir, hingga Marcus Fernaldi Gideon.

Awalnya, nama Jojo atau mungkin bisa dibilang wajahnya pertama kali dikenal bukan karena prestasi di bulu tangkis. Pada 2009 saat usianya 11 tahun, Jojo menjadi kameo di film King yang berkisah tentang perjalanan salah satu legenda tunggal putra Indonesia, Lim Swie King.

Nama Jojo baru benar-benar diakui di dunia bulu tangkis Indonesia saat dirinya menjejak 15 tahun. Pada 2013, ia akhirnya mendapat panggilan untuk masuk pelatihan nasional (pelatnas) Cipayung.

Pada awal kehadirannya, Jojo langsung menggebrak bulu tangkis Indonesia dengan menjadi jawara di Indonesia International Challenge 2013. Di partai puncak, Jojo mengalahkan Alamsyah Yunus yang 11 tahun lebih tua usianya dalam dua gim dengan skor 21-17, 21-10.

Jonatan Christie mengembalikan bola kiriman Chen Long. Foto: Reuters/Beawiharta

Saat itu, prestasi yang diraih diringi dengan ekspektasi tinggi kepada Jojo untuk terus berpendar. Pasalanya, di tahun ia masuk pelatnas itu, Taufik Hidayat memutuskan gantung raket. Dengan pensiunnya Taufik, Jojo diharapkan bisa melanjutkan tongkat estafet dari seniornya tersebut.

Dengan bayang-bayang prestasi seabreg Taufik, Jojo melewati jalan berliku untuk membuktikan kapabilitasnya sebagai tunggal putra potensial. Pada 2013, berkali-kali ia gagal menyabet gelar, seperti di Vietnam Terbuka, Kejuaraan Dunia Junior Bulu Tangkis, hingga Indonesia Terbuka.

Naik-turun penampilan Jojo berlanjut di 2014. Dari 10 kejuaraan yang ia ikuti, mulai dari kategori Internatonal Challenge, hingga Grand Prix, cuma satu gelar yang berhasil diraih pria kelahiran 15 September 1997 ini, yakni Swiss International Challenge.

Tahun 2015 berjalan lebih kelam lagi buat Jojo. Pasalnya, meski jumlah kejuaraan yang ia ikuti menjadi lebih banyak (13), Jojo sama sekali tak meraih gelar juara. Langkah terbaiknya hanya lolos ke perempat final Indonesia Terbuka.

Hal serupa terjadi di 2016, cuma semifinal Malaysia Terbuka saja yang menjadi prestasi terbaik Jojo selama kurun setahun itu. Tak ayal, kritik, keraguan akan kapabilitasnya mulai bermunculan. Terlebih, tunggal putra Indonesia lain pun tak bisa banyak berbicara di level internasional di kurun itu.

Momen Jojo membungkam keraguan publik akhirnya tiba setahun berselang saat dirinya menyabet medali emas tungga putra perorangan SEA Games 2017 di Malaysia. Di partai final, Jojo menumbangkan wakil Thailand, Khosit Phetpradab dua gim langsung dengan skor 21-19, 21-10.

Lantas, nama Jonatan Christie kian meroket seiring medali emas yang diraihnya pada sektor tunggal putra nomor perorangan Asian Games 2018 di Jakarta. Jojo berhasil jadi tunggal putra Indonesia pertama yang menginjak podium tertinggi setelah terakhir kali Taufik Hidayat melakukannya pada edisi 2006.

Kemenangan yang diraih Jonatan juga didapat dengan heroik. Sebab, sepanjang turnamen, dia sukses menyingkirkan nama-nama unggulan seperti Shi Yuqi, Kenta Nishimoto, sampai Chou Tien-Chen yang dikalahkannya di partai final.

Atlet bulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie setelah usai melawan Chou Tienchen pada laga final tunggal putra di Asian games 2018 di Jakarta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Memang, di tahun 2019 ini belum ada sumbangan gelar yang diberikan Jojo usai gagal di Indonesia Masters dan Malaysia Masters. Namun, kans untuk Jojo memberi titel juara bagi Indonesia masih terbuka di gelaran All England 2019.

Di babak pertama atau 32 besar, pria berusia 21 tahun itu berhasil mengalahkan mantan juara dunia bulu tangkis 2014 asal Korea Selatan, Lee Dong-keun, dua gim langsung dengan skor 21-16, 21-19. Jojo menjadi andalan Indonesia bersama Tommy Sugiarto yang juga lolos ke babak kedua, setelah Anthony Ginting kalah di babak pertama.

Bagi Jojo, All England 2019 adalah kali ketiga dirinya mentas pada turnamen bulu tangkis tertua di dunia ini. Di dua edisi sebelumnya, Jojo cuma sampai di babak pertama pada 2016, dan babak kedua di 2017. Kini, langkah Jojo di babak kedua All England 2019 bakal mendapat adangan dari wakil India, Srikath Kidambi.